Selasa, 17 Juli 2012

The Boy with a Lolypop in his left hand

Dia masih terduduk terdiam, tak jua berkata. Matanya redup menatapku dalam-dalam. Ada luka di dalam sana. Ada lara teramat sangat.  Tak ada sinar ceria yang dulu pernah memendar. Tak ada pula gairah semangat yang dulu juga pernah menyala. Mata itu makin meredup.
Aku diam menunggu ia bicara. Tapi tidak juga mulut itu mengeluarkan suara. Bibirnya bergetar, seolah mengatakan sesuatu, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
“ hhh….” Aku mendesah kesal seraya memberikannya lolly pop  kesukaannya. Berharap bisa membujuknya untuk mengatakan apa yang terjadi, apa yang ia rasakan saat ini. Terlalu menakutkan bagiku untuk menghadapi kenyataan bahwa dia kembali tenggelam dengan dirinya sedniri.
Dia menerimanya, seperti biasa dengan tangan kirinya. Kukira dulu dia kidal, tapi ternyata tidak.
“karena aku benci tangan kanan!” begitu jawabnya ketika kutanya mengapa dia selalu menggunakan tangan kiri untuk mengambil lolypopnya. “dan aku sangat mencintai loly pop. Mana mungkin aku menyerahkan benda yang kucinta pada tangan yang kubenci?”
“kenapa kamu begitu menyukai loly pop?” tanyaku saat itu.
“Nikmatilah Loly pop dengan sepenuh hatimu, karena kamu akan merasakan sensasi yang sangat sensual saat bibirmu mulai menyentuhnya untuk pertama kali, dan ketika lidahmu bermain di setiap bagian itu akan terasa asam dan manis, tekstur warnanya membuat kamu akan semakin bergairah untuk segera melumat dan mengahabiskannya hingga jilatan terakhir[i]”. Begitulah jawabnya suatu ketika kutanya mengapa dia begitu menyukai gula-gula itu.
Namun sekarang dia hanya diam. Tak berkata. Hanya suara decap bibirnya yang mulai sibuk dengan loly pop di tangan kirinya.
Jika kuberitahu engkau siapa dia, tentu kau tak akan percaya. Tidak juga aku ketika pertama kali melihatnya di kursi pasien saat itu. Tentu kau mengenalnya sebagai sosok yang kuat, begitu pula aku. Dan faktanya, dia memang kuat, lantang, tegas tak kenal kompromi. Dia akan terus menerabas, membogkar dan menerjang segala sesuatu yang menurutnya salah. Teluk buyat[ii], blok natuna[iii], gunung emas papua[iv], utang luar negeri yang terus membengkak, korupsi yang menggurita, duka penduduk Porong yang tenggelam oleh lautan lumpur. Dan terakhir kau melihatnya begitu gagah menentang rencana kampanye kondom ke kelompok remaja oleh menteri kesehatan baru demi memenuhi permintaan tuan besarnya melalui MDGs[v].
Tapi, tidak di depanku saat ini, di ruang ini. Dia tidak sekuat itu, dia rapuh. Sama sekali tidak lantang. Bahkan dia tak jua bersuara. Dia hanya sibuk mencecap loly pop di tangan kirinya. Dan dengan segera loly pop itu pun lumer di mulutnya. Meninggalkan noda kemerahan di pinggir bibirnya. Tentu kau tidak akan menyangka bahwa dia begitu jorok, dulu pun aku tak pernah menyangkanya.
Tanpa kuambilkan, dia langsung mengambil loly pop yang kedua, dan tentunya dengan tangan kirinya. Sempat aku yakin bahwa dia kidal, tapi hipotesisku terbantah tatkala dia menenggak segelas air putih yang kusuguhkan dengan tangan kanannya. Dan sampai loly pop kedua itu luner meninggalkan batangnya yang kesepian, dia masih belum juga mau berkata-kata.
Jika jadi aku, tentu kau sudah frustasi. Satu tahun bukan waktu yang singkat untuk membina sebuah hubungan, dan dalam sekejap semua jadi mentah kembali. Dalam setahun ini, si kecil Daniel sudah bisa balas tersenyum saat ayah dan mamanya menyapanya, padahal ketika dia datang, menatap wajah lawan bicara pun dia tak mampu. Dalam sdtahun juga, bahkan kau sudah ceria menceritakan istrimu yang baik dan anak-anakmu yang lucu, tak ada lagi ide-ide konyol tentang euthanasia[vi] dengan 10 cc suntikan Phenobarbital[vii] intra vena untuk mengakhiri penderitaanmu. Tak peduli lagi engkau dengan kanker yang menggerogoti prostatmu. Tak peduli pula dengan konspirasi para kapitalis yang dulu menghantui mimpi-mimpimu.
Pun begitu pula dengan dia. Terakhir kali aku bertemu dengannya, tepatnya seminggu yang lalu, dia masih lantang, bersemangat jauh lebih baik dari setahun yang lalu ketika dia pertama kali datang. Dan tiba-tiba saja hari ini, dia tak ubahnya ketika pertama kali dia datang, mungkin lebih buruk. Jika saat pertama kali dia datang, dia mengucapkan terima kasih ketika kuberikan sebatang loly pop, maka tidak hari ini. Dia hanya membisu.
Mungkin aku terlalu ambisius, bukankah setiap pasien punya karakter masing-masing? Dan sungguh aku sangat benci seseorang dengan karakter seperti dia. Tak bisa ditebak dan terlalu banyak tahu. Kupikir, apa yang kami lakukan tak ada perkembangan sama sekali, kecuali akhirnya dia mau bercerita panjang lebar tentang masa lalunya. Itu pun sepotong-potong, seperti sebuah puzzle yang sengaja dia berikan untuk mempermainkankku. Dan tepat ketika aku sedang bingung menyusun puzzle-puzzle seperti saat ini, dia akan tersenyum, matanya berbinar gairah. Seperti bocah enam tahun yang berhasil menyesatkan orang dewasa yang bertanya alamat kerabat padanya. Atau seperti remaja yang berhasil menjahili guru matematikanya.
Jancok! Aku mulai tak sabar dengannya, dengan senyumnya kememangannya, aku mulai benci dirinya, aku mulai benci diriku sendiri. Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku? Apakah kebingungankku atas teka-teki? Apakah ketidakberdayaanku menghadapi tingkah lakunya? Ataukah keputusasaanku menunggu kebisuaanya? Untuk inikah aku dibayar?
Jancok! Taik! Bangsat!
Rasanya ingin kutumpahkan semua sumpah serapah ke mukanya. Sayangnya aku tak bisa. Dan dengan tenangnya dia mengambil loly pop di mejaku, tentu dengan tangan kirinya, dan memberikan padaku. Aku menerimanya, seperti menerima kekalahanku. Kami duduk berhadap-hadapan, sama-sama mencecap loly pop, sama-sama belepotan noda-noda merah lumeran loly pop, sama-sama diam saling menatap.
Matanya tersenyum, bukan senyum kemenangan yang selalu aku sangkakan sebelumnya. Tapi senyum kejujuran.
“aku luka…” matanya mulai bercerita. “sepertimu…, kita sama-sama luka. Dunia pun luka. Kau oleh arogansimu, aku oleh arogansiku, dan dunia oleh arogansi dunia. Mengapakah kita tak kembali saja pada masa tanpa arogansi? Masa ketika kita mempersakasikan dan membenarkan sebuah kebenaran dari Yang Maha Benar? Ooh… mungkin engkau lupa kapan itu terjadi, aku pun lupa dan mungkin dunia juga lupa” matanya terus saja mengirimkan sinyal psychotron[viii].
Hah! sejak kapan aku belajar menangkap dan menterjemahkannya? Mungkin kau bertanya begitu, aku juga. Tiba-tiba saja aku punya kemampuan itu.
Jangan-jangan itu hanya halusinasiku saja? Atau bahkan delusi? Mungkin kau akan terus mendebatku. Dan mungkin aku akan menjawabnya, mungkin juga tidak.
Dunia begitu absurd, aku begitu absurd, kau juga absurd, tentunya dia juga begitu absurd, kita semua begitu absurd oleh arogansi yang juga tak kalah absurd. Lalu mengapa kita tak kembali saja ke masa-masa dimana arogansi tak ada? Seperti yang diusulkannya?
Hei! Itu bukan ide yang buruk. Mungkin itu jawabmu, mungkin juga tidak. Aku tak peduli, bahkan tak pernah peduli padamu. Aku doktermu, kau pasienku, dia pasienku, Daniel juga pasienku, mungkin dunia juga pasienku. Lalu mengapa aku harus larut dalam keabsurdan kalian? Mengapa juga aku harus terus peduli padamu yang hanya bisa menorehkan luka menggariskan lara?
 Dia masih diam, begitu juga matanya, tak lagi mengirimkan sinyal psychotron. Ah mungkin tadi hanya imajinasiku, aku terlalu lelah. Tangan kirinya bergerak mengambil loly pop ke lima, membuka bungkusnya lalu mencecapnya dengan rakus. Ah setidakanya aku tidak perlu menyuguhkan rokok atau ethanol untuk membuat dirinya tenang. Karena keduanya tidak pernah aku suka. Keduanya hanya untuk orang-orang yang luka dan lara. Dan aku tidak luka maupun lara. Dan dia pun akhirnya tak pernah lagi datang dengan mulut bau rokok dan ethanol. Hanya membawa beberapa batang lolypop di tangan kirinya.
“aku luka… kau tahu itu” matanya kembali mengirimkan psychotron kepadaku. “kau bisa melihat parutnya yang tak akan pernah hilang.”
“siapa yang melukaimu?” aku mencoba mengirim psikotron.
“mereka!” dia menjawab, aku berhasil berkomunikasi dua arah dengannya.
“siapa mereka?”
“di depanmu mereka memujaku, di belakangmu mereka menggagahiku. Tahu kah kau bagaimana rasanya digagahi ramai-ramai? Tentu kau tahu, tapi kau pura-pura tak tahu. Bukankah berandal-berandal itu pun pernah menggagahimu? Menyisipkan sejuta nyeri dan ngilu ke ujung colon rectummu. kau pun meringis nyeri, senyeri dan sengilu papua yang tercabik mesin-mesin Freeport yang menderu. Dan mereka pun mendesah nikmat atas segala luka dan lara yang ada padamu. Lalu mengguyurkan sejuta kehinaan dari batang kebiadaban mereka ke wajahmu seperti Newmont yang mengguyurkan mercuri ke Buyat. Aku luka. Kau pun luka. Aku lara, kaupun lara. Dunia pun nelangsa. Hanya mereka yang terbahak”
“tidak! Aku tidak luka.” Sanggahku. Aku runtuh, tak seharusnya aku larut dalam ocehannya yang bahkan tak terdengar oleh telinga.
“kau luka, kau lara, kau tahu itu meski enkau menyangkalnya, meski engkau mulai menikmatinya. Kau luka oleh mereka yang menggahimu malam itu. Kau luka oleh dia yang meninggalkanmu, lelaki yang bahkan dengan bangganya menceritakan istrinya yang cantik dan anak-anaknya yang lucu padamu. Lelaki yang hanya diam saat berandal-berandal itu mencecap tiap jengkal tubuhmu, seperti korporat-korporat itu mengkavling tiap jengkal negeri ini. Dan tentu kau luka oleh arogansi rasionalisasimu[ix]. Kau berusaha menikmati, tapi kau hanya menipu diri sendiri. Kau luka, kau lara.”
“Hentikan!!” aku benar-benar runtuh. Ya … aku luka, aku lara. Kau pun tahu itu, kau menyaksikanku tapi kau hanya diam membisu, tak satu langkahpun kau ambil untuk melindungiku, tak satupun gerak kau kerahkan untuk menyelamatkanku. Kau hanya diam membisu, menatapku penuh rasa ngilu. Ya … aku luka, aku lara. Kau pun tahu itu. Kau tahu saat aku mulai tenggelam dalam lumpur dunia, dan kau pun hanya membisu.
 “tentu! Tentu kita harus menghentikan semua itu. Menghentikan mereka yang terus menorah luka menggaris lara. Menghentikan kebiadaban demi kebiadaban.”
“lalu kenapa kau masih membisu di sini?” ejekku. “ tidak kah orasimu lebih berguna jika kau melantangkannya di gedung yang kau sebut be ha itu?”
“ kemarin mereka datang” sambungnya mendatar. Aku menunggu. “Mereka mengancamku, mereka mengancam akan membunuhku jika terus bersuara menentang. Aku tidak takut ancaman mereka, aku hanya malu. Sama sepertimu, aku malu jika harus kembali kepadaNya sementara diri belum bersih… ”
Lalu dia pun membisu, tak mau berkata. Tidak oleh mulutnya yang penuh noda merah lolypop yang lumer oleh ludahnya, tidak pula oleh psikotron dari matanya. Dia masih mendiam dengan pandangannya yang kelam, penuh luka, penuh lara, penuh kengerian yang teramat sangat. Menyiksaku dengan resah dan gelisah.
Waktu terus bergulir. Dia masih terdiam, aku semakin tersiksa resah.
Waktu semakin bergulir,  mulutnya tak bersuara, matanya tak berkata. Hanya diam yang semakin meresah. Aku tak tahan lagi. Sungguh! Tak ada pilihan lain, aku harus menyingkir, sebelum aku tersingkir.
Ping!
BBM dari sekretarisku, memberitahukan pasien pertama hari ini sudah datang. Aku segera bergegas pergi meninggalkannya yang membisu, meninggalkan sebingkai cermin berdebu yang masih membisu.
FIN
* * *
Terima kasih sudah membacanya. Salam kenal.
Desem: Deffan Septian Muharram (deffanmuharram@yahoo.com) adalah dewasa muda yang lahir di bulan September yang bertepatan dengan bulan Muharram, yang kadang sok tua tapi tak jarang jua masih kekanak-kanakan J. Dirundung galau oleh ketidakpastian kapan kuliahnya selesai membuatnya jadi hobby baca baik fiksi maupun non fiksi (kecuali bahan kuliah, hehehe). Sampai akhirnya menemukan blog Tommylovezacky yang membimbingnya untuk mengexplorasi apa yang ada di kepalanya dan mewujudkannya dalam kata-kata. Sebagai pemula dalam dunia tulis menulis, tentu tulisannya masih sangat jauh dari kata excellent, tapi mohonlah kiranya para senpai bisa berikan dukungan berupa kritik dan saran.
Sekali lagi: Terima kasih J


[i] Filosofi sponsor lomba J

[ii] Teluk buyat: teluk di Sulawesi utara yang terkenal karena pencemaran limbah tailing dari PT Newmont Minahasa Raya, menimbulkan berbagai dampak yang berantai, mulai dari kerusakan ekosistem pantai hingga berbagai penyakit yang timbul karena pencemaran tersebut (minamata disease).

[iii] Blok natuna: Blok Natuna D Alpha, wilayah penambangan gas alam di Provinci Kepulauan Riau dengan bagi hasil 100% gas untuk kontraktor, sementara Indonesia hanya mendapatkan pajak.

[iv] Gunung emas: gunung emas yang dimaksud adalah gunung Ersberg dan Garsberg di kabupaten Mimika Provinsi Papua yang secara resmi dikuasai oleh PT Freeport Indonesia, anak perusahaan dari Freeport McMoran Copper and Gold Inc, sejak tahun 1991. Seperti korporat-korporat besar lainnya, PTFI tidak lepas dari masalah kerusakan lingkungan serta pembagian hasil yang sangat njomplang (1 untuk Indonesia, 99 untuk Freeport) Ironisnya pemerintah seolah tidak pernah tahu kejahatan yang dilakukan korporat-korporat itu. Data lengkap bisa dibaca dari buku Selamatkan Indonesia oleh Amien Rais.

[v] MDGs: Millennium Development Goals. Kesepakatan international tentang tujuan pembangunan Negara-negara di dunia. Terdiri dari 8 goals. Kalau dilihat dari textnya maka tidak ada yang aneh dengan MDGs, semua baik dan bagus. Namun bila dilihat dari realisasinya, maka kita akan tercengang dengan program-program yang berujung pada hegemoni Negara maju kepada Negara berkembang. Goal yang cukup mencuat saat ini adalah goal 6 tentang pemberantasan HIV/AIDS, dimana WHO menekan Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mengkampanyekan penggunaan kondom pada kelompok yang berisiko. Selain tidak mengatasi permasalahan akar dari HIV/AIDS, kampanye ini diduga ditunggangi korporat produsen kondom, bayangkan jika kondom menjadi barang wajib di Indonesia yang berpenduduk 200 juta. Berapa keuntungan yang akan diperoleh?

[vi] Euthanasia: program “pembunuhan”pasien yang dilakukan oleh dokter atas persetujuan pasien sendiri atau keluarga, dengan pertimbangan bahwa hidupnya sudah tidak bisa tertolong dan hanya membuat pasien menderita.

[vii] Phenobarbital: obat sedative dan anti kejang. Dalam dosis tinggi bisa melumpuhkan otot-otot termasuk otot antar iga yang menjadi otot pernafasan utama. Menjadi obat protocol untuk euthanasia.

[viii] Psychotron: salah satu hipotesis tentang telepati, sebuah partikel sekaligus gelombang yang dipancarkan oleh seseorang dan bisa ditangkap oleh orang lain. Kemampuan memancarkan dan menangkap orang lain sebenarnya dimiliki oleh setiap orang, tetapi beda tingkat kemampuan. Kemampuan ini bisa ditingkatkan dengan latihan. Menjadi salah satu kajian dalam disiplin ilmu parapsikologi, berbeda dengan di Indonesia yang terkesan mistis, parapsikologi di luar negeri, salah satu pusat penelitian dan pengembanannya adalah di swiss, lebih bersifat ilmiah dan dapat dijelaskan, meskipun masih dalam tataran hipotesis. Bidang kajian lainnya adalah teleportasi (berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sekejap) dan telekinetis (menggerakkan benda denga kekuatan pikiran).

[ix] Rasionalisasi: salah satu mekanisme pembelaan ego (ego defense mechanism) imatur dengan membuat alasan-alasan pembenaran sehingga kesalahan-kesalahan yang dilakukan tampak wajar adanya. Ada juga yang menyebutnya sebagai intelektualisasi, karena alasan-alasan yang dibuat sedemikian mendukung sampai-sampai tidak ada yang menduga bahwa dia telah bersalah/telddor.

Bahasa Tanpa Kata

Malam semakin dalam mencengkramkan kuku-kukunya yang beku ke tulang belulang orang-orang yang kalah. Membuatnya meringkuk nyaman di bawah kehangatan selimut tebal. Melenakannya dengan sejuta mimpi esok hari. Tapi tidak bagi kami. Nafas kami saling beradu, jantung kami saling berpacu. Keringat bercucuran membahasahi tubuh kami yang membara. Tanda bahwa metabolism tubuh kami sedang meningkat. Dia tersenyum dengan matanya yang memendar jenaka. Aku membalasnya. Dan dia semakin menenggelamkan tubuhku dalam rangkulannya. Dan aku semakin terbius oleh aroma kejantanannya.
Namanya Rengga Pabrev Kamardikan. Kami bertemu bulan Mei tahun lalu. Saat itu aku sedang bingung sekaligus marah. Kawan-kawan yang mengajakku telah meninggalkanku sendirian di tengah keramaian festival Malang Tempo Doeloe.
“Jiiyan…”umpatku dalam hati, tapi tak kuteruskan. Aku tak terbiasa dengan kata J, meskipun di Surabaya itu sudah menjadi sapaan sehari-hari. Apa yang bisa kuperbuat selain terus menunggu mereka di depan Gereja, seperti kesepakatan sebelumnya.
Malam semakin larut, dinginnya  udara malam kota Malang semakin menusuk, dan kawan-kawanku masih tak tentu di mana rimbanya, sementara beberapa stand sudah mulai tutup. Muda-mudi di sekitarku pun mulai menghilang satu satu, entah mereka pulang, entah pindah ke tempat yang lebih ‘memungkinkan’.  Dan aku masih mematung di depan gereja sendirian.
“Mau?” Tawarnya saat itu sambil menyodorkan gulali merah bertabur wijen. Sempat curiga sih, di jaman sekarang yang serba duit dan penuh dengan kriminalitas, mana ada orang menawarkan sesuatu tanpa hidden agenda di baliknya.
No such things as free lunch, begitu kira-kira kata orang Amerika. Nggak ada makan siang gratis.” Sambungnya seperti bisa membaca pikiranku. “Tapi tenang, gua bukan orang Amerika koq Bro. Gua asli Bandung.” Matanya ramah, ada pendar  ketulusan di dalamnya.  Dan itulah yang kubutuhkan saat ini, saat kawan-kawanku hilang entah ke mana. Aku mengambil lolly pop tradisional itu. Masih ada ragu saat aku mulai mengulumnya, jangan-jangan ada mantra gendamnya. Ah tapi peduli amat, toh aku tidak membawa barang berharga selain hape bundas. Tapi gimana kalo ternyata dia menginginkan tubuhku? Jangan-jangan dia akan memotong-motongnya dan menjual bagian per bagian?
“Tenang, gua juga bukan pemburu dan penjual organ manusia.” Ups… koq dia bisa tahu yang  ada di dalam pikiranku? “Hahah… Cuma menebak aja, kau terlalu mudah ditebak dari raut wajahmu.”
“ Mmm…” Aku hanya bergumam, mencoba menikmati gulali merah yang mulai lumer di mulutku.
”Nikmatilah Loly pop dengan sepenuh hatimu, karena kamu akan merasakan sensasi yang sangat sensual saat bibirmu mulai menyentuhnya untuk pertama kali, dan ketika lidahmu bermain di setiap bagian itu akan terasa asam dan manis, tekstur warnanya membuat kamu akan semakin bergairah untuk segera melumat dan mengahabiskannya hingga jilatan terakhir[i]”
“Ini kan gulali”protesku datar.
“Hehehe…lu punya selera humor juga.”balasnya.
“Rengga…” sambungnya sambil  mengulurkan tangan kanannya.
“Rengga Pabrev Kamardikan…”lanjutnya saat aku menyambut tangan kanannya. “elu?”
“Panggil saja saya Angga” jawabku.
“hmm… Angga.  Nama kita mirip, mungkin kita jodoh.” Katanya asal. Aku hanya membalasnya dengan senyuman cegek.
“Sekaranga apa rencanamu? Masih menunggu teman-temanmu?” bagaimana dia bisa tahu bahwa aku sedang menunggu teman-temanku? Jangan-jangan dia beneran bisa baca pikiranku.
“Cuma nebak aja! Lu benar-benar orang yang polos dan mudah ditebak.” Benarkah aku semudah itu ditebak?
“Yup… lu memang orang yang mudah ditebak hahaha… pasti lu bertanya benarkah aku mudah ditebak? Ya kan?”dia menatapku tajam. Matanya yang tadi berpendar ramah sekarang berubah menjerat dan mengexplorasi.
“Nama lengkap lu Gyatso Satria Airlangga, bapak lu tentunya salah seorang penggede Unair makanya namalu ada airlangga-airlangganya. Dan tentunya ibulu seorang pemuja HAM dan pengagum Dalai Lama, makanya dia menambahkan Gyatso sebagai nama depanlu. Dipanggil Gyatso terlalu aneh untuk lidah Jawa, maka ibulu memanggilmu Ai, nama kecillu. Tapi bapaklu memanggillu Satria. Elu sendiri mungkin lebih suka di panggil…. Mmm…  “dia berhenti sejenak, seperti sedang berfikir. “Lolly Pop...”
“Weekkk…” aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku atas tebak-tebakkannya yang nyaris sempurna. Tapi kenapa endingnya jelek sekali. Lolly Pop… kenapa nggak sekalian aja Gulali?
“Hahaha bercanda,” Tawanya pecah. “ Sudah lah mending lu ikut ke kost gua aja. Dekat sini koq.” Aku nggak tahu apakah ini sebuah bencana ataukah anugerah, bermalam dengan orang yang baru kukenal dan terlalu pintar menebak.
“sudah  gua bilang gua bukan pemburu dan penjual organ manusia. Tapi sebagai  cowok, lu terlalu  polos, lugu dan manis. Gua jadi nafsu pengen merkosa lu…”
GLUDAK…
“Hahaha…  bercanda koq Bro. ikut nggak?” Dia menatapku sebentar dengan tatapannya yang ramah, lalu berbalik dan meniggalkanku. Aku masih tertegun ragu.
“Kau tahu mengapa abah gua menamakan gua Rengga Pabrev Kamardikan?”dia bertanya tanpa sedikitpun menoleh ke arahku, yakin banget kalo aku mengikutinya.
“Rengga sebenarnya adalah akronim dari dua kata Bahasa Jawa. Ireng dan Gagah. Ya sesuai denga fisik gua yang lu liat sekarang, hitam dan gagah. Exotis kan?” Ya sekilas dia memang menawan, atau exotis dalam bahasanya. Hitam, sebenarnya lebih tepat coklat, dan gagah. Tingginya kira-kira 170an, tidak gempal seperti bina raga, tapi kurasa liat dan atletis seperti pemanjat tebing. Bahunya lebar tapi dadanya tipis, seperti Arjuna dalam ikonografi pewayangan Jawa. Dengan kemeja slim fit yang dikenakannya, dia memang benar-benar terlihat Ireng dan Gagah. Ah aku terseret dalam permainan tebak-tebakannya.
“Pabrev dari akronim pahlawan besar revolusi. Pemberian kakekku ” jelasnya menggantung tanpa menoleh sedikitpun ke arahku, seperti memberiku kesempatan untuk menebak-nebak. Hmm… pastilah kakeknya seorang penggemar Bung Karno. Mungkin dia juga lahir di bulan Juni. Aku makin tertarik dengan permainan tebak-tebakan ini.
“Abah gua yang lahir di bulan Juni.  Gua bulan Agustus. Tepatnya 17 Agustus, itulah yang menjelaskan kata ketiga dari rangkaian nama gua. Nah sudah sampai, dekatkan kos gua Bro…” Akhirnya dia menoleh ke arahku.
“Kenapa kau begitu yakin aku mengikutimu?” Sepatah kalimat yang mewakili segala keherananan dan ketakjubanku atas dirinya yang ajaib.
“Karena lu, gua, kita sudah terikat.” Jelasnya bersemengat, tanganya menggenggam satu sama lain meyakinkanku bahwa kami benar-benar sudah ditakdirkan untuk terikat. “Gua tahu tentang elu, dan sebenarnya elu pun tahu tentang gua. Elu, gua, kita ditakdirkan untuk terikat!”
Krik … krik… krik… aku memandangnya cegek. Cowok yang aneh. Ah biarin lah, yang penting dia nggak ada maksud jahat. Aku pun mengikutinya masuk, pengen cepet-cepet pipis, cuci muka, sikat gigi lalu tidur. Malam itu menjadi malam pertamaku tidur berdampingan dengannya. Tentunya bukan malam terakhir. Sejak perkenalan kami yang sungguh aneh bin ajaib itu, entah karena tersugesti kata-katanya yang bagai hipnotis, aku merasa memang benar kami telah terikat sejak kami ada.
Dan sejak itu, secara rutin tiap weekend kami bergantian saling mendatangi. Kadang aku yang ke Malang, kadang dia yang ke Surabaya. Ada-ada saja yang kami perbuat jika bertemu. Mulai dari berburu noni-noni Belanda yang katanya sering keluyuran malam-malam di Aula kampusku, NIAS[ii], merekam adegan mesum di Taman Bungkul, nggodain cewek-cewek jilbaber yang sering nongkrong di Masjid Al Hikmah UM, mewawancarai tamu-tamu wisma di gang doli, hingga bermain-main dengan aparat seperti malam ini.
Ya malam ini kami mengerjakan proyek gila yang sudah kami rencanakan. Sebenarnya bukan benar-benar proyek gila buatan kami sendiri. Kami mengkopas dengan sedikit modifikasi dari ide teman-teman Bandung. Bermula dari kejengkelannya terkait audiensinya yang tak digubris dewan terkait West Madura Offshore. Dalam keyakinannya, semua energi termasuk yang tambang minyak yang ditemukan di laut sebelah barat Pulau Garam itu, seharunya menjadi milik rakyat. Penguasa, dalam hal ini Pemprov Jatim maupun Pemkab-Pemkab se-Madura hanya sebagai pengelolah. Sedangkan perusahaan swasta baik asing maupun lokal hanya sebagai pekerja. Maka sebagaimana konsepnya, minyak yang dihasilkan seharusnya menjadi milik rakyat. Pemerintah tidak berhak menjual apalagi mengambil keuntungan darinya. Apalagi perusahaan-perusahaan itu. Mereka hanya mendaptkan imbalan sesuai kerja yang mereka lakukan. Dan pada akhirnya rakyatlah yang harus menikmati energi itu secara murah, kalau bisa cuma-cuma. Kalau toh harus membayar, maka tak boleh lebih dari biaya produksi. Betapa hancurnya dia, tatkala audiensi itu, dewan malah sibuk mengatur pembagian jatah antara pemprov dan pemkab-pemkab Madura.
Dalam keadaan dongkol itulah, dia mengajakku “honey moon” ke kampung halamannya, Bandung, tanpa sepeser uang pun. Awalnya aku menolak, lha emang mau jalan kaki ke Bandung? Terus makannya darimana? Nyolong?
“Lu tenang aja lah Bro, gua bukan maling koq” seperti biasa dia menebak apa yang ada di kepalaku dan menjawabnya. “kita akan bawa ini…” katanya bangga sambil memamerkan gitarnya yang penuh sticker. Salah satu sticker yang terbaca olehku dan masih terngiang sampai saat ini adalah “Revolting is not crime: Bergerak berkali-kali karena mati hanya sekali”.
Dan dari perjalanan itulah aku mengenal sisi lain dari si Ireng Gagah. Ternyata dia memang suka main tebak-tebakan, dan permainan itulah dia bisa begitu akrab dengan orang lain. Termasuk pengamen-pengamen di atas kereta. Dan dari pengamen-pengamen itulah kami mendapatkan segala fasilitas perjalanan ini. Memang tidak gratis betul, kami ikut rombongan mereka untuk menyanyikan lagu-lagu “kebangsaan”.

Di sini negri kami, tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya, tanah kami subur tuhan
Di negri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka
Anak buruh tak sekolah, pemuda desa tak kerja.

Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami, tuk membabaskan rakyat
Bunda relakan darah juang kami, padamu kami berjanji
 Dengan sedikit improvisasi, dia menyanyikan lagu Darah Juang-nya band Marjinal. Lagu yang semula terkesan cadas itu menjadi lebih soft dan sedikit mellow. Aku mengernyit heran walaupun tentu lebih menyukai versi ini daripada versi aslinya.
“Perjuangan itu milik rakyat banyak, jadi buatlah supaya mudah diterima oleh orang banyak. Tidak mengubah esensi, hanya mengubah sedikit nada.” Jawabnya ringan. Aku tersenyum saja. Dia tampak semakin menawan di mataku.
Sesampainya kami di Bandung, kami mampir sebentar ke rumah keluarganya. Yup benar-benar sebentar. Hanya beberapa saat, tak sampai tiga jam kurasa, mandi, makan, lalu sedikit bermanis-manis ke keluarganya. Setelah itu kabur, entah ke mana. Bahkan kami tak semalam pun tidur di rumah keluarganya.
“Yang kaya abah ma mamah gua. Gua sendiri masih nggembel, kayak yang lu liat!” sindirnya ketika aku merasa cegek dengan kondisi rumahnya yang mewah. Aku hanya tersenyum mengiakan.
Kami di Bandung tak lebih dari tiga hari. Menginap di sebuah kontrakan teman-teman si Ireng. Para begundal-begundal intelek yang unik. Mereka menamai kontrakan mereka Gubug Derita dan menyebut penghuninya Rebelito, Pemberontak Jantan. Benar-benar komunitas yang unik, terdiri dari tiga orang yang benar-benar berbeda. Mulailah aku main tebak-tebakan dengan mengamati dan menganalisis namanya satu persatu.
Penghuni pertama memperkenalkan diri sebagai Taqiyosky, melihat cara berpakaian dan blackhole di jidatnya, kurasa namanya dari Bahasa Arab yang di-paksa-Rusia-kan. Taqiy, artinya orang yang bertakwah. Ya, dialah si social religious, mengimani Muhammad sekaligus mengagumi Marx. Agak sulit dijelaskan memang, tapi ada. Aku lebih suka memanggilnya dengan versi Arab, Taqiy.
Penghuni kedua menyebut dirinya Togog, dalam ikonografi wayang Jawa, dia adalah salah satu Pana Kawan yang membela Kurawa. Baginya tahta Astinapura seharusnya menjadi milik Kurawa sang rakyat kebanyakan, bukan Pandawa si minoritas yang tiran. Kurasa dia seorang yang akan bergargumen bahwa Indonesia sekarat karena demokrasi telah disandera oleh pemuja neolib, segelintir pemodal-pemodal kaya yang ia sebut Pandawa. Bukan karena cacat bawaan demokrasi sebagaimana diucapkan Plato, sang bapak demokrasi, bahwa demokrasi an sich adalah sebuah Imperfect Society yang mengerikkan. Ya dialah Si Pemuja Demokrasi Sejati.
Penghuni ketiga suka dipanggil Yoyo, nama yang sederhana seperti sebuah permainan yang membutuhkan skill untuk memainkannya. Maka seperti permainan itu, dia pun kecil tapi lincah dan terus bergerak. Ide-ide terus mengalir dalam tubuhnya yang relative kecil, pemikiran-pemikirannya membadai: dekonstruksi dan rekonstruksi tanpa ujung. Ya dialah Si Pembadai Otak, Brain Stormer.
Menurut pengakuan mereka sendiri, Rebelito adalah komunitas dalam komunitas. Mereka berinduk pada komunitas Panas Dalam atau yang lebih sering disingkat Pandal, sebuah komunitas yang sudah masyhur di kalangan barudak Bandung. Anggotanya tidak hanya mereka bertiga, tapi puluhan, termasuk si Ireng Gagah yang ada di sampingku, yang sudah menghilang sejak dua tahun yang lalu dari orbitnya di Bandung.
“Gyatso!” begitu jawab Si Ireng singkat, seperti biasa, tanpa ada yang menanya.
“Hmm… Dalai Lama[iii] dong? Kapan-kapan kalo lu pulang ke Lhasa ajak-ajak ya. Hehehe … ” Canda Yoyo, Si Pembadai Otak berwajah Baby dengan mata yang jenaka, lebih jenaka dari si Ireng.
“Ya…! Perempuan memang pemicu perang, pengoyak kedamaian dan penghambat revolusi. Memang sebaiknya kau dengan dia saja. Hahaha….”  Sambung si Togog. Mendadak ada rasa aneh diperutku di ruang antara hati dan jantung, saat mendengar komentarnya. Apakah dia menyangka bahwa aku dan Ireng BFan?
“Sudah makan?” tanya Taqiyosky. Kurasa dia satu-satunya yang masih berfenotipe orang normal dari sekumpulan Rebelito yang unik. Tanpa menuggu jawaban kami dia sudah mengeluarkan air mineral gelasan dan sekotak snack. Mungkin perasaanku saja, ada pendar asing di mata si Ireng saat melihat Taqiy. Dan tentunya ada rasa penuh yang mencekik leherku saat melihat pendar itu juga ada di mata Taqiy.
“Gua ke Salman[iv] dulu. Ada diskusi ma Barudak HATI. Kalo mau bisa nyusul.” Jawab Taqiy kikuk, ada getaran aneh di nadanya.
“Hmm… makin alim ya?” tanya si Ireng, dengan nada yang tak kalah aneh, ada getaran tak terdefinisikan olehku. Apakah mereka…?
“Itu dulu.” Jawabnya tanpa kutanya. Leherku semakin terasa penuh. Aku menatapnya dengan mataku yang terasa semakin panas. Aku tahu, masih ada rasa di antara mereka.
“Ya. Dan jangan tanya lagi. Pergilah cuci muka!” kata-katanya datar, aku sama sekali tak mengenal lelaki yang ada di sampingku. Tanpa menunggu Yoyo dan Togog menyadari ketegangan di antara kami, aku langsung ngabur ke kamar mandi. Mencuci muka, mendinginkan kepala dan dada, membuang segala tanya.
Saat aku kembali, suasana sudah mencair kembali. Yoyo menceritakan aksi-aksi yang ia rancang dan laksanakan dengan urutan yang acak adut. Sementara Togog hanya bengong mendengki karena tak punya ide dan pengalaman secemerlang Yoyo.
“Langsung aja gua embat tuh barang polisi. Masak gara-gara nggak nyalain lampu motor siang hari gua di palak goban? Hina banget tuh polisi.”
“lebih hina elu lah, masak ngembat barangnya orang hina? Hahaha… barang apa yang lu embat?” Akhirnya Togog bersuara, bosan mendengarkan cerita tentang direct action  yang dibangga-banggakan Yoyo. Tawanya pecah, memenuhi Gubug Derita. Herannya si Yoyo malah ikut tertawa lepas, seperti tak tau kalau si Togog sedang berusaha menikamnya.
“Minggu lalu kita bikin toilet circle” Togog berusaha mengambil kendali kisah mereka. “Nggak ketinggalan si Cimenk dan Meong. Cuma Si Alim aja yang nggak ikut.” Aku mengernyit nggak ngerti. Tanpa kuminta si Togog pun menjelaskan dengan berapi-api, aksi mereka saat itu. Malam-malam, melawan dinginnya udara Bandung, mereka menyusur beberapa jalan dan mendatangi “Lubang Bertuah”, sebuah lubang yang konon katanya sudah menelan banyak korban kecelakaan lalu lintas tapi pemkot tak jua membuntu. Dengan cat sprai seadanya mereka berempat menggambar gravity di aspal sekitar lubang tersebut, lalu menulisi dengan huruf yang mencolok: “Silahkan Kencing dan Berak di lubang ini. Gratis!”
“Gila lu!” komenku terkagum-kagum keisengan mereka. Tanpa sadar aku sudah menggunakan bahasa lu-gua. “Trus nggak ketauan?”
“Sempat ketauan, tapi kita berhasil kabur ha ha ha ha …” Togog mengakhiri kisahnya. Barulah kutahu keunggulan Togog dibandingkan Yoyo, selain masalah fisiknya yang nyaris perfect, dia punya retorika yang dahsyat. Tentunya dia jadi incaran mojang-mojang Pandal.
“Sayang si Alim nggak ikut. Huh katanya revolusi dimulai dengan pemikiran bukan dengan tindakan iseng. Emangnya kita nggak berfikir waktu merencanakan dan menjalankan Toilet Circle Project ini?” sambung Togog ketus. kembali ada aura tidak menyenangkan keluar dari si Ireng tiap kali ada yang menyebut si Alim yang tak lain adalah Taqiyosky.
Sepulangnya dari Bandung, kami mulai merencanakan Toilet Circle Project. Target kami bukan jalan-jalan berlubang di Surabaya. Tapi sebuah gedung yang berseberangan dengan Masjid Takmiriyah di Jalan Rajawali, ya gedung DPRD Jawa Timur. Terdengar konyol dan gila, tapi itulah satu-satunya hal yang terpikir kami untuk membalas penghinaan mereka kepada rakyat Jawa Timur. Dan malam inilah eksekusi pembalasan itu.
Tepat malam itu kami bergentayangan membawa cat sprai. Aku yang mengintai, memastikan suasana benar-benar aman, sementara dia mulai menggambarkan gravity ke jalan di depan gerbang gedung DPRD. Beberapa goresan merupa hasil semprotan spray yang dia pegang. Aku menunggu dalam cemas.
“Let us therefore rejoice while we are young. After our pleasant youth, after troublesome old age, the ground will hold us. Our life is brief. It will shortly end. Death comes quickly, cruelly snatches us. No one is spared[v]” dia terus menyenandung mantra favoritnya dalam gumam, sementara spray di tangannya terus menggoreskan pola-pola yang semakin jelas bentukannya.
Tak berapa lama, gravity selesai ia buat. Aku tersenyum legah, hmm nggak terlalu jelek. Tapi aku membaca sesuatu yang lain di matanya. Dan dia mengangguk. Adrenalin kembali membanjiri pembuluh darahku. Dia memutuskan untuk membuat gravity di tembok pagar. Aku tak setuju, terlalu dekat dengan pos keamanan. Terlalu berbahaya. Tapi dia tak menghiraukanku. Dia terus mendekat ke pagar dan mulai menggambarkan lingkaran toilet yang ada dalam kepalanya. Nafasku memburu, mungkin nafasnya juga. Dan tepat sesaat setelah dia menyemprotkan goresan terakhir, lampu senter menyorotnya.
Beberapa saat aku terlempar antara sadar dan tidak, seperti tindihan, sleep paralyze. Apa yang kulihat dan kudengar tumpang tindih dengan yang kubayangkan, tumpang tindih dengan yang kutakutkan. Rasanya ingin berlari, tapi kaki serasa mati. Ingin berteriak tapi lidah terasa kelu. Hanya igauan nggak jelas. Aku tak sadar.
“ssstt…. Kita sudah aman” Desisnya di tengah nafasnya yang masih memburu saat melihatku mulai membuka mataku.  Dia merangkulku sambil terus mengusap dahiku. Aku menatap wajahnya dalam gelap. Ada rasa aneh makin tumbuh di ruang antara hati dan jantungku, rasa yang sama tiap kali aku menatap wajahnya, merasakan hangat tubuhnya atau mengendus aroma tubuhnya yang jantan. Rengga semakin menenggelamkanku dalam pelukannya. Aku semakin terbius.
Semalaman kami berdekapan di bangku Stasiun Semut. Tanpa suara, tanpa kata, hanya hati yang bicara, bahwa kami saling mencinta. Benarkah? Terbayang kembali tentang Taqiyosky si Alim, kekasihnya yang lalu. Apa aku mampu menggantikannya?
“Dulu mereka sepasang…” ucap Yoyo saat itu. “ Apa ya? Sulit menjelaskannya. Jika sekedar sahabat, rasanya terlalu dekat. Jika kekasih, hmm… bukankah mereka sama-sama lelaki. Kecuali mereka seperti …” Yoyo melirik ke arah Togog yang sibuk berkaca, memperhatikan pakaian dan gayanya seolah ada di atas mimbar orasi.
“kenapa emangnya dia?”
“Bi… sex” bisik si Yoyo. Lalu dia berupaya menahan tawa.
“lalu mengapa seperti ada tembok tebal antara mereka?” tanyaku.
“ hm… “ Yoyo mendehem pelan. “ rumit. Cinta, jika memang mereka saling mencinta lho ya, bertabrakan dengan ideology. Maka harus ada yang mengalah jika tidak ingin kalah. Dan nyatanya keduanya mengalahkan cinta demi ideology masing-masing. Tapi menurutku, Taqiyos yang memulai perseteruan itu. Dia semakin mendekat ke anak-anak Salman, dan menjauh dari Rebelito dan Pandal, dan tentunya menjauh dari Rengga. Aku tak tahu motiv dasarnya, mungkin arogansi, mungkin rasa sakit hati, mungkin merasa dihianati atau mungkin cemburu, Rengga akhirnya menjauh darinya, mulai menyebut Taqiyos sok alim. Saat itu hampir tak ada hari tanpa keributan yang dibuat dua makhluk ajaib itu. Sampai akhirnya Rengga memutuskan untuk kabur ke Malang. Taqiyos demam selama seminggu, setelah kepergiannya. Hmm… Kira-kira begitu ceritanya”
“Cinta? Ideology? Masih nggak ngerti.”
“hm…” dia kembali berdehem, memilih diksi yang pas untuk menjelaskan kerumitan di dalam kepalanya. Tak seperti gayanya yang biasa ceplas ceplos. “Mending kamu tanya langsung ke orangnya. Dulu kukira kamu kekasih Rengga yang baru heheheheh…”
“Nggak cuma teman.” Ya kami hanya teman. aku sudah bertanya dalam hati, dan dia sudah menjawabnya, dia masih mencintai Taqiyosky, kekasih lamanya. Lalu aku?
“Revolusi dimulai dari pemikiran dan diwujudkan dengan langkah-langkah edukatif politis. Bukan kekonyolan yang sporadic.” Jelas Taqiy saat kutanya apa yang membuat mereka “berseteru”. Dia belum menjawab dengan jujur. Aku tahu.
“Hanya perbedaan seputar langkah revolusi?” tanyaku pura-pura heran.
“Kadang kita boleh memilih antara dua hal yang sama-sama diperbolehkan. Tapi kadang kita harus tegas memilih yang boleh, dan meninggalkan yang tak boleh.” Jawabannya mulai mengarah, aku diam menunggu.
“Ide-ide dan langkah-langkah konyol hanya akan membuat fokus kita terpecah, membuat kita lengah dan lupa pada tujuan yang sebenarnya, membuat kita sibuk dan lelah tanpa makna. Sementara sistem yang ada tetap meraja.” Jawabnya kembali mengambang.
“Kau suka dia?” tanyaku langsung. Dia tampak terkejut, tapi hanya sekejap.
“Dulu…” jawabnya memberat, dia menghela nafas panjang.
“Sekarang?” Desakku. “Kulihat dia masih menyimpan perasaan itu untukmu.” Aku mulai tak sabar dengan jawabannya yang terus mengambang.
“Ya aku masih menyukainya, seperti aku menyukaimu, menyukai Togog, Yoyo, Cimenk, Meong, Riang, Pepey, Japrak dan kawan-kawan yang lain.” Jawabnya tergesa, tampak sedikit emosi.
“Cinta?” Desakku tanpa memberi jedah. Dia menatapku tajam. Aku membalas sewajarnya. Beberapa saat dia terdiam, aku pun diam menunggunya.
“Ya aku masih mencintainya…” Desahnya nyaris tak tertangkap membran timpani telingaku. “Tapi aku lebih mencintai Ideologi-ku.”  Tegasnya melenggang pergi. Dia masih mencintai Rengga, Rengga juga masih menyimpan perasaan untuknya. Apa aku masih punya harapan?
Tentu! Tentu aku masih punya harapan. Aku harus segera mengutarakan perasaanku ke Rengga, segera! Secepatnya. Tapi ternyata mengutarakan perasaan tak semudah merencanakannya. Beberapa kali pertemuan dengannya setelah kepulangan kami dari Bandung seperti menguap sia-sia. Aku hanya bisa menatapnya penuh harap. Mengapa dia tak menebak apa yang ada di hatiku seperti biasa? Apa dia tak menyadarinya? Atau dia pura-pura tak menyadarinya? Dan kukira inilah saatnya. Ya pagi ini, pagi setelah kami berdekapan semalaman.
“Reng…” panggilku lemah. Kondisiku belum sepenuhnya pulih dari peristiwa semalam yang mengejutkan.
“ya..” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku, masih sibuk menyiapkan sarapan. Dia sudah hafal betul letak barang-barang di kamar kosku. Kuamati punggungnya yang lebar gagah.
Rengga Pabrev Kamardikan, aku sungguh mencintaimu! Teriakku dalam hati, apa dia mampu mendengar seperti biasanya?
“Rengga…”
“sst…. Jangan bergerak dulu.” Dia datang menghampiriku, membawa semangkuk bubur ayam dan segelas susu vanilla. Tanpa memintaku dia sudah menyuapiku.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
“Aku sudah tahu.” Jawabnya tak lagi menggunakan gua-lu. “aku tahu apa yang ada dalam dirimu. Kamu juga tahu apa yang ada dalam diriku. Bukankah sudah kukatan, bahwa kita sudah terikat sejak kita ada?”
“Tapi … Aku ingin …”
“ssstt…” Dia meletakkan telunjuknya di bibirku. “Tak semua rasa bisa terungkap indah oleh kata. Kamu tahu, aku tahu, maka cukup waktu yang bicara.” Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Nafasnya menerpa wajahku, menyatu dengan nafasku. Kupejamkan mata. Ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirku, sesuatu yang manis, sesuatu yang …
“aah…. Ireng… jahat!” kulempar ia dengan bantal.
”Nikmatilah Loly pop dengan sepenuh hatimu, karena kamu akan merasakan sensasi yang sangat sensual saat bibirmu mulai menyentuhnya untuk pertama kali, dan ketika lidahmu bermain di setiap bagian itu akan terasa asam dan manis, tekstur warnanya membuat kamu akan semakin bergairah untuk segera melumat dan mengahabiskannya hingga jilatan terakhir” teriaknya menghindar bantal yang melayang.
Ya, terkadang rasa itu lebih indah tatkala terasa, bukan terucap bahasa. Saat bahasa mewujudkan rasa dalam kata, sebagian makna akan menguap lenyap. Seperti misteri yang telah terpecahkan. Kamu tahu, aku tahu, maka cukup waktu saja yang bicara dalam bahasa tanpa kata.
FIN




[i] Filosofi sponsor lomba J

[ii] NIAS = Nederland Indische Artsen School = Sekolah Kedokteran Hindia Belanda. Sekarang menjadi FK UNAIR.

[iii] Dalai Lama, pemimpin spiritual sekaligus kepala Negara versi Negara Tibet. Versi China, dia adalah pemimpin pemberontak yang ingin melepaskan Tibet dari RRC. Lhasa: kota terbesar di Tibet. Dalai Lama ke-14 bernama Tenzin Gyatso.

[iv] Masjid Salman, masjid kampus ITB. HATI = Harmoni Amal Titian Ilmu, sebuah unit kegiatan mahasiswa (UKM) bidang pemikiran dan politik di ITB.

[v] Translasi lagu De Brevitate Vitae (Gaudeamus Igitur).

Trepanasi

… ngiiiiinngggg……
Sekali lagi, takdir telah memilih bor dan ruang operasi untuk mempertemukan kita. Aku memandangmu dengan sebuah pertanyaan: apakah kau masih mengingatku. Dan kaupun membalas datar: kita sudah punya jalan masing-masing.

Nggingg…..
Bormu kembali berputar. Berusaha menembus kerasnya tulang tengkorak lelaki paruh baya yang terkulai tak berdaya di mejamu. Nafasnya satu-satu, tampak tenang tak seperti awal ronde tadi sebelum kumasukkan propofol ke aliran darahnya.

Ngiinggg….
Kau memusatkan semua tenaga dan perhatianmu ke ujung mata bor. Keringatmu bercucuran deras.
“keras ya dok?”tanya mak sriah, perawat instrument yang selalu setia menemanimu melakukan operasi.
“ya gitu itu kepalanya pemimpin jaman sekarang, pada keras. Apalagi hatinya. Nggak pernah mau menyadari penderitaan rakyatnya. Rakyat banyak yang berpakaian gembel, dia sibuk dengan anggaran baju kenegeraan. Rakyat pada nggelandang, dia sibuk dengan renovasi rumah.” Curhatnya.
“hmmm…. “kau hanya berdehem, tidak mengiyakan maupun membantah pernyataannya. Dunia sudah membuat kita apatis dan kehilangan kepedulian terhadap sesame. Dulu kitalah yang berada di garis paling depan untuk menentang kebijakan-kebijakan yang kita rasa menyengsarakan rakyat.
“tau nggak dok?”tanya perawat instrumenmu lagi.
“hehmm…” Dan kau hanya berdehem lagi.
“dia masuk sini nggak bayar. Minta gratisan. Katanya fasilitas untuk pemimpin. Berapa rupiaj yang sudah masuk ke kantongnya? Masih saja minta gratisan. Apa dia nggak malu pakai JPS rakyat”

Nggiiiiinggg……
Akhirnya mata bormu menembus tulang tengkorak lelaki itu.  Dan tiba-tiba…
Bussyy….
Segumpal asap keluar dari lubang yang kau buat. Baunya busuk, benar-benar busuk. Bahkan wajahmupun memucat nyaris pingsan. Untung perawat instrumenmu tanggap dan segera menyalakan exhauster.
Dan belum sempat kau sadar penuh, cairan kuning berbau khas keluar dari dalam lubang itu.
“koq kayak bau bensin ya dok?”
“hmmm….” dehemmu datar.
***

footnote: 

1 trepanasi: Trepanasi/ kraniotomi adalah suatu tindakan membuka tulang kepala yang bertujuan mencapai otak untuk tindakan pembedahan definitif

2. propofol: Propofol adalah obat anestesi intravena yang paling sering digunakan saat ini. dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonic dengan pemekatan 1% ( 1 ml = 10 mg).

3. JPS = Jaringan pengan sosial, semacam asuransi kesehatan untuk masyarakat miskin.

Senin, 21 November 2011

catatan sahabat

catatan sahabat

dari seorang sahabat yang bahkan belum pernah berjumpa


Ini adalah sebuah kisah antara aku dan seorang sahabatku.
Antara kita memang terjalin sebuah ikatan yang sedemikian kuat.
Seperti halnya klorofil yang membutuhkan matahari,
seperti halnya airmata yang membutuhkan kelopak untuk mengucurkan buliran-buliran.

Ini adalah sebuah kisah sunyi antara aku dan sahabat kentalku.
Antara kita terajut ikatan yg sedemikian rekat
seperti ikatan ideologi yang memutar kendali Matahari dari bumi,
seperti ikatan yang membuat kami satu di alam raya,
seolah satu fikiran di dalam turbin semesta.

Mendadak pada suatu senja
ketika hujan bertaburan
seperti halnya lucifer yang ditebarkan menyesak di udara
membalut cawan jiwa dalam dosa

Dan sahabatku pun memunggungiku
Wajahnya tertunduk lesu membayang di batas cakrawala,
wajahnya mengalami jurang kejatuhan sedalam neraka.
Sahabatkupun menjadi beringas dalam kesunyiannya,
ia pun menjadi bastard yg mengzig-zagkan bagian tubuhnya yang paling sakral.
Lantas sahabatkupun memayungi harinya dg berhala.

Dia pun beranjak dan moksa bukan dg doa
tapi dg amarah yang menyala
dalam kepekatan Hutan hitam yg berkeringatkan air api
ia menggasing berkobar-kobar hingga menjadi merah, sepekat darah
hingga kemudian dia terjatuh dan menghablurkan pertaubatan di ambang-ambang kehampaan.

Aku memaafkannya karena ia manusia yg memiliki hak yang sama dengan qt,
manusia yang berhak melakukan pertaubatan sebelum dirinya binasa,

Mendadak pada suatu masa,
ketika hujan bertaburan seperti halnya puisi.
Yang ditebarkan malaikat di udara bangunkan diri ini dg cahya,

Aku bertanya pada sahabatku,
masih ingatkah kau pada senandung ketika qt melewati jalan yg diselipi duri
jalan yg dihiasi penggalan kepala seperti kilasan peristiwa asyura di karbala,

Masih ingatkah kau pada pemikiran singa di dalam diri kita
yang mampu menggigilkan tentara.

Ia melirik ke arahku teramat riang sekali.
Nampaknya ia telah membuka pintu pengampunan bagi dirinya.
Sahabatku pun mengambil gitar yang ada,
dan menyenandungkan stanza.
Stanza yang memelodisasikan kerinduan pada air Tuhannya,
ya stanza syahadat perjalanannya sebagai seorang pemuda.

Sahabatkupun kini kembali mengkristalkan pemikirannya,
membuang kemalasan dan menjaga suhu tubuhnya tetap mencapai titik kulminasi
melawan seribu kebusukan yang hadir di depan matanya,

sahabatkupun bernyanyi agar semua orang tahu
bahwa qt kembali bekerja mengumpulkan pahala,
agar kita menjadi satu di alam raya satu fikiran dan rasa

Rabu, 15 Juni 2011

hoist the colours

ost pirates of caribean at world ends

Yo, ho, haul together,
hoist the colors high.
Heave ho,
thieves and beggars,
never shall we die.

The king and his men
stole the queen from her bed
and bound her in her Bones.
The seas be ours
and by the powers
where we will we'll roam.

Yo, ho, haul together,
hoist the colors high.
Heave ho, thieves and beggars,
never shall we die.

Some men have died
and some are alive
and others sail on the sea
– with the keys to the cage...
and the Devil to pay
we lay to Fiddler's Green!

The bell has been raised
from it's watery grave...
Do you hear it's sepulchral tone?
We are a call to all,
pay head the squall
and turn your sail toward home!

Yo, ho, haul together,
hoist the colors high.
Heave ho, thieves and beggars,
never shall we die.

Sabtu, 11 Juni 2011

negeri para bedebah

Puisi Negeri Para Bedebah
Karya:Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
Reply With Quote